Sebagai manusia urban yang hobi berolahraga, bahkan mungkin sudah terdaftar sebagai atlet cabang olahraga panjat sosial, memperbarui konten di media sosial merupakan suatu keharusan yang HQQ dan nyata.

Meskipun kegiatan yang satu ini sebenarnya menghabiskan waktu, tenaga dan terkadang uang, tapi tidak bisa dipungkiri sekarang Instagram sudah menjadi kebutuhan hidup manusia modern pengguna ponsel pintar.

Bahasa gaulnya: sandang, pangan, papan, colokan, keributan dan update instagram.

Sayangnya Instagram sendiri punya aneka tingkatan kasta yang entah dari mana datangnya; mulai dari rakyat jelata, penikmat kopi dan senja, aktivis sosial media, atlet panjat sosial, sampai dengan kasta tertingginya: selebgram.

Definisi selebgram ini juga sebenernya rada kabur, yang jelas berdasarkan kitab bahasa pergaulan masyarakat urban yang tentunya saya susun sendiri berdasarkan kegiatan membaca forum gosip, selebgram adalah kata yang berasal dari kata seleb dan instagram.

Thus selebgram; seleb instagram.

Saya juga sempat merasakan jadi selebgram sehari. Sebagai atlit panjat sosial pemula, saya sempat syok ketika di suatu sore yang cerah saya mendapati jumlah pengikut saya mendadak meningkat.

800 new followers.

Apa pasal? Artikel saya ternyata diunggah ulang oleh sebuah media agregat dengan ribuan pembaca. Artikel tersebut viral dan instagram saya dibanjiri pengikut baru yang kepo dengan kehidupan saya.

Kotak pesan yang tadinya sepi tiba tiba ramai berisi pesan-pesan dari orang orang yang tak saya kenal, ada yang mengucapkan terimakasih, ada pula yang menghujat saya. Pusing rasanya membaca kata kata kotor dari para pembaca ini, apakah ini rasanya punya haters?

Lalu saat membuka salah satu pesan, saya sempat terkesiap.

“Hai kak, kami tertarik sekali dengan tulisan kakak di xxxxx, kalo boleh kami ingin meng-endorse kakak dengan produk kami yaitu xxxx, bolehkah kami minta ratecard kakak???”

Endorse??? ENDORSE?????

Duh pening sekali rasanya. Saya membaca ulang kalimat yang ada di DM tersebut, khawatir salah baca soalnya. Setelah yakin betul, tentu saja saya membalas dengan gembira. Paket segera dikirim menggunakan ojek daring.

Cek DM Gan! Ada yang Saya Tanyakan
Sebagai orang yang tidak sering liburan, saya berusaha untuk memanfaatkan momentum libur panjang untuk plesiran. Risiko karyawan, waktu libur hanya akhir pekan. Ternyata tidak ada yang berbeda waktu kerja di Bumi dengan di Pluto. Saya sudah pernah menulis tips liburan para karyawan [/enam-tips-libu…

Masih dalam kondisi tak percaya, saya melanjutkan kegiatan membaca pesan yang masuk. Tak lama sebuah DM baru masuk, isinya tak kalah mengejutkan. Sebuah undangan pun masuk mengajak saya untuk mengikuti influencer gathering keesokan sorenya.

Lho sejak kapan saya jadi influencer?

Meski undangan terkesan sangat dadakan, tapi saya iyakan juga undangan tersebut, toh saya sedang tak ada kegiatan dan sedang bosan. Jiwa panjat sosial saya menyeruak,

kok kayanya seru juga jadi selebgram, disuruh datang acara saja dibayar

Saya membuka buka lemari baju, mematut diri sambil berputar didepan kaca.

Jadi ini rasanya jadi selebgram, seru juga.

Kemudian saya panik,

apa baju ini cukup pantas dibawa ke acara gathering? Apakah saya perlu booking makeup dan hairdo? Apakah saya perlu beli baju baru? Kenapa undangannya mendadak sekali???

Dengan berat hati saya membuka YouTube dan mencari tutorial make up yang bisa saya praktikkan untuk esok hari. Tak sampai satu video selesai, saya jatuh tertidur lelap dan terbangun karena bunyi bel rumah yang cukup kencang. Paket saya datang. Tak  lama sang pengirim paket mengirim pesan,

“kami tunggu postingannya ya kak, oh ya ini ada brief dan panduan posting untuk kakak”

Saya baca dokumen singkat itu sambil meraba-raba isinya. Berarti saya harus menyiapkan sesi foto ya untuk mengambil foto ini. Maklum, foto foto selebgram kan harus bagus ya? Kan ((kita)) content creator.

Panik lagi. Siapa yang akan memotret? Mengandalkan orang rumah sepertinya tidak mungkin. Saya kembali berselancar di Instagram mencari fotografer lepas untuk memotret. Panik karena saya khawatir foto saya jelek dan saya juga tak terbiasa menunjukkan muka saya di feeds Instagram. Tak lama, seorang kawan lama yang merupakan fotografer lepas di sebuah studio foto menawarkan diri untuk memotret saya besok pagi.

“Gak usah bayar, tapi tag aku di instagrammu ya, promosiin jasaku” katanya singkat. Wow, enak banget foto gratis sama fotografer betulan!

Saya pikir masalah akan selesai sampai di sini. Ternyata tidak.

Pagi itu cuaca hujan dan mati lampu. Saya tidak bisa mengeringkan rambut, padahal rambut sudah lepek bukan main. Teman saya pun tidak bisa berangkat karena hujan deras lengkap dengan peringatan BMKG. Mau berfoto di dalam rumah dengan menggunakan tripod pun cahayanya tidak ada. Terpaksa saya menunggu hujan reda dan lampu menyala.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 siang tapi lampu tak kunjung menyala juga, padahal dalam 3 jam saya harus sudah siap untuk datang ke acara influencer gathering yang dimaksud. Terpaksa saya memesan taksi daring untuk pergi ke salon. Total pengeluaran sejauh ini: taksi daring, salon, dan taksi daring menuju acara yang cukup jauh dari salon langganan. Kalau ada hal yang saya pelajari dari menjadi selebgram adalah, modalnya ternyata besar juga ya.

Sampai di lokasi, saya baru sadar bahwa kegiatan influencer gathering berarti saya juga harus berinteraksi dengan banyak hal, baik influencer beneran yang duduk di sebelah saya, orang-orang brand yang mengundang saya, sampai host dan MC yang dengan semangat bertanya saya siapa dan darimana di tengah-tengah acara.

“Baju kamu lucu banget beb,” kata influencer yang duduk disebelah saya. Saya cuma tersenyum dan berterimakasih. Ingin berkata, “baju kamu juga,” tapi saya takut dibilang perez. Ingin berkata “murah lho beb, aku beli di awul-awul” saya takut dia shock kemudian menjauh dan menutup hidung. Sometimes, silence is golden alias wes menengo cah.

Waktu makan, saya semakin insecure. Sebuah survei mini dengan metode yang sangat tidak ilmiah di Instagram story saya pernah menunjukkan bahwa orang-orang paling sebel dengan orang yang makannya berantakan dan berbunyi. Rasanya kegiatan makan menjadi semacam sidang skripsi yang menakutkan.

“Kamu nggak doyan makanannya ya mbak?” tanya seorang representatif dari brand yang mengundang saya. Saya menggeleng sambil tersenyum. Duh mbak, andai kamu tahu saya lagi grogi berat karena duduk semeja dengan selebgram-selebgram betulan yang selama ini berseliweran di laman explore instagram.

Saya paham rasa grogi ini sangat sepihak, karena para influencer beneran ini sama sekali nggak peduli kenapa saya ada di situ. Kami bertukar kontak dan berjanji akan ngopi cantik pekan depan. Puji Tuhan, ternyata dunia influencer tidak seseram yang saya pikirkan.

Setelah dua setengah jam duduk menyimak acara, saya pulang menenteng goodie bag lengkap dengan pesan sponsor “kalau dipos ke Instagram jangan lupa tag kita ya sist~” Oke baiklah, dapat PR lagi ternyata.

Di jalan pulang saya melihat matahari terbenam dan berpikir, jika saya harus melakukan ini setiap hari, mungkin saya tidak akan mampu. Terbayang tumpukan produk di rumah yang harus saya foto, belum janji lainnya yang saya buat selama 24 jam ini. Saya menutup mata di dalam taksi daring yang terjebak kemacetan di jalan solo dan berharap semua tanggung jawab ini akan menguap bersama sisa sisa air hujan di tepi jalan.

Besok saya nggak akan buka endorse lagi. Atau buka saja kalau lagi butuh uang kali ya?

Dasar manusia nggak mau rugi!