Menjelang akhir kelulusan kuliah, sebenarnya aku sudah mengambil proyek untuk mengembangkan salah satu produk perusahaan rintisan (start-up) di Yogyakarta. Proyek yang semula diambil hanya untuk menambah uang jajan dan transisi dari mahasiswa menjadi alumni yang siap memasuki dunia kerja, berlanjut menjadi sebuah profesi dan menjadi karyawan di dalamnya dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang singkat. Enam tahun lamanya.

Di perusahaan tersebut, sebenarnya kami sudah memiliki budaya “kerja kapan saja, dan di mana saja”. Walau tidak ada minimal jam kerja, ada batasan-batasan tertentu yang wajib dilaksanakan setiap pekerja. Semisal, tiap minggu minimal tiga kali datang ke kantor untuk tatap muka dan setiap rapat harus tatap muka secara langsung.

Dari semua pengalaman kerja, baik on-site maupun semi-remote seperti perusahaan di atas, baru tiga tahun belakangan aku mulai menggeluti kerja remote secara penuh. Perusahaan tempat aku bernaung berada di luar negeri, secara teknis tidak ada kantor resmi di Indonesia. Itu artinya, aku harus menyiapkan sendiri tempat kerja yang semula rumah biasa, disulap menjadi kantor pribadi.

Walau sudah berpengalaman kerja tanpa pengawasan langsung, tak terikat waktu, tak terikat tempat, tapi tetap saja bekerja remote penuh memberikan pengalaman dan hal yang jauh berbeda dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Boros, tapi Tidak Boros

Ketika memutuskan untuk bekerja secara penuh di rumah, itu artinya aku harus mengeluarkan sejumlah dana untuk memodifikasi rumah yang awalnya hanya dipakai untuk beristirahat, kini juga berfungsi untuk dipakai kerja.

Mebel seperti meja dan kursi yang empuk sudah harus ada, laptop atau PC sebagai alat utama tentu saja tidak kelewatan.

Selain kebutuhan awal tersebut, aku juga harus mengeluarkan biaya-biaya yang sebelumnya tidak ada (sebelumnya disediakan oleh kantor), kini mulai harus dibayar sendiri. Seperti: biaya langganan internet, membengkaknya tagihan listrik, serta makan siang yang kudu beli sendiri (beberapa perusahaan menyediakan makan siang untuk karyawannya).

Walau di satu sisi ada biaya yang berkurang jika dibandingkan kerja kantoran, seperti tidak ada lagi ongkos bahan bakar pergi-pulang kantor. Namun, rasanya biaya bulanan yang dikeluarkan bekerja di rumah jauh lebih besar.

Lebih boros lagi, jika jampir tiap hari bekerja di coffeshop atau di (co)-working space.

Gaji Lebih Tinggi

Bisa iya, bisa tidak. Tergantung di perusahaan mana kita bekerja. Tidak semua perusahaan yang membolehkan karyawan bekerja secara remote berasal dari luar negeri. Ada banyak juga perusahaan di Indonesia yang membolehkan karyawannya bekerja dari rumah.

Ketika bekerja untuk perusahaan Indonesia, maka, gajinya ya standar perusahaan di Indonesia pada umumnya. Semisal, gaji pemogram PHP rata-rata di angka enam juta rupiah, aku yakin pekerja remote di perusahaan Indonesia juga pendapatannya tidak jauh beda dari angka tersebut. Namun, dengan pengeluaran yang lebih banyak seperti pada penjelasan poin di atas.

Apakah itu berarti hanya perusahaan luar negeri yang berani menggaji mahal? Tidak juga. Ada juga perusahaan luar yang mencari talenta di Indonesia dengan tujuan menekan pengeluaran perusahaan semaksimal mungkin, menggaji karyawannya dengan standar perusahaan Indonesia pada umumnya.

Komunikasi Hanya Melalui Media Internet

Ketika bekerja di kantor, kita selalu bisa membicarakan banyak hal dengan bertatap muka langsung. Ada banyak pesan yang bisa tersampaikan ketika berbicara dengan melihat langsung lawan bicara kita.

Berbeda dengan kerja remote, segala sesuatu dibicarakan/didiskusikan dalam bentuk digital melalui pesan instan. Karena tidak dapat melihat langsung mimik muka lawan bicara, seringkali kita salah menginterpretasikan kalimat dari lawan bicara (atau sebaliknya). Kita mengirim pesan dengan nada dan emosi santai, bisa jadi lawan bicara menganggap kita marah-marah.

Sesekali atau dua diadakan video-conference dalam seminggu. Selain untuk membahas rencana tugas, hal ini juga berguna untuk mendekatkan personel di dalam tim.

Keahlian Berbahasa Inggris Semakin Meningkat (Walau Tidak Signifikan)

Ketika ngobrol menggunakaan bahasa Inggris dengan orang lokal, seringnya yang kita dapat adalah umpan balik perbaikan kesalahan dari polisi bahasa.

“Wah, sok-sokan pakai bahasa Inggris, grammar masih kacau!”

” Mending pakai bahasa Indonesia deh daripada pakai bahasa Inggris tapi amburadul”

“Bahasa Inggris atau bahasa planet lain tuh?”

“Harusnya ditulis XYZ, bukan ABC seperti yang kamu tulisa barusan.”

– Warganet dan Polisi Bahasa

Hal di atas tidak pernah aku alami ketika ngobrol langsung dengan pengguna bahasa Inggris di luar negeri, bahkan native speaker sekalipun. Inti dari obrolan adalah pesan tersampaikan, pendengar dan pembicara paham antara satu dan lainnya.

NAMUN, ketika kita sudah mulai mengalami kesulitan mendengarkan lawan bicara kita atau pesan yang kita sampaikan sulit dimengerti oleh pendengar, itu artinya kita sudah harus sadar diri untuk meningkatkan keahlian berbahasa Inggris.

Hal itulah yang aku alami beberapa bulan ini, mulai sadar diri bahwa bahasa Inggris yang aku praktikkan masih jauh dari kata bagus. Hal ini pula yang memotivasi untuk terus belajar bahasa Inggris melalui media daring (0nline) atau luring (offline).

Walau, peningkatan yang aku rasakan tidak terlalu signifikan, paling tidak lawan bicara sudah bisa menangkap pesan yang aku sampaikan, gaya tulisan juga mulai membaik dibanding beberapa tahun yang lalu.

Kemampuan Mengatur Waktu Diuji

Tidak ada bos yang lalu lalang di ruangan memberikan rasa nyaman, setidaknya buat aku. Bayangkan, tiba-tiba ada bos dari belakang muncul menanyakan progres, sedangkan di layar terpampang sebuah video game aku berkonsetrasi memecahkan suatu masalah. Yang ada, pikiran fokus menjadi buyar, kita jadi dibuat kaget olehnya.

Seringkali, minimnya pengawasan membuat aku (atau siapapun) terlena oleh waktu dan berujung pada penundaan tugas kerja.

Prokastinasi istilahnya.

Aku sendiri beberapa kali melakukan hal ini, menunda pekerjaan karena melakukan hal lain yang dirasa lebih asik. Imbasnya, pekerjaan terbengkalai, performa dianggap menurun, dan dibuat repot sendiri di akhir pekan.

Tugas yang tidak selesai pada waktunya memberikan efek buruk buat diri dan hanya akan menambah hal tidak terpuji lainnya, semisal berbohong dengan alasan yang dibuat-buat demi menutupi keterlambatan penyelesaian tugas.

Punya (Lebih) Banyak Waktu Luang

Dalam sebuah wawancara kerja, aku pernah ditanya begini:

Pewawancara: “Apa yang membuat Anda lebih suka bekerja remote?”

Aku: “Ketika bekerja remote, saya punya banyak waktu lebih luang. Semisal, di pagi hari saya bisa berolahraga atau berkebun dahulu, kemudian langsung lanjut kerja tanpa harus mandi.”

Pewawancara: “Jadi, Anda lebih suka kerja dalam kondisi tidak mandi?”

Aku: “^%$^%#%$#”

Inti yang ingin aku sampaikan dari percakapan di atas adalah punya lebih banyak waktu luang jika dibandingkan dengan bekerja kantoran.

Coba imajinasikan, setiap pagi aku harus mandi, bersiap diri untuk berangkat, kemudian melakukan perjalanan ke kantor. Katankan lah untuk berangkat kerja (termasuk persiapannya) butuh waktu satu jam. Sedangkan untuk pulang ke rumah, butuh waktu 45 menit. Itu artinya, ada lebih kurang dua jam yang dihabiskan setiap harinya di jalanan.

Nah, ketika bekerja remote, dua jam yang dihabiskan untuk perjalanan ini bisa dimanfaatkan untuk hal produktif lain, misal: membaca buku, berkebun, belajar bahasa Inggris, meningkatkan ibadah, dan lain sebagainya. Mau dipakai untuk sekadar bersenang-senang seperti nonton film atau main video game juga tidak masalah, kok!

Minim Sosialisasi

Ketika bekerja di kantor, ada banyak orang yang bisa temui, rekan kerja, karyawan beda divisi, klien, dan lain sebagainya. Jika kamu bekerja dari rumah seperti yang aku alami sekarang, maka siap-siap tiap hari bekerja dengan kesendirian.

Tidak ada teman yang diajak ngobrol secara langsung dan instan. Tidak ada gosip dan gibah antar karyawan. Tidak ada candaan antar personel. Walau bisa dilakukan melalui chat atau video-call, tapi rasanya tetap saja berbeda.

Bahkan, sampai saat ini, beberapa tahun aku bekerja, tidak pernah sekalipun bertemu langung dengan rekan kerja, walau tinggal dalam satu kota. Apalagi kalau sudah sampai beda negara.

***

Kalau ada yang melihatku nampaknya selalu bahagia bekerja secara remote, pada kenyatannya tidak selalu. Bekerja secara remote atau on-site memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ada yang betah kerja kantoran sedari pagi sampai sore dari Senin sampai Minggu, ada juga orang yang gampang terdistraksi dengan keramaian, seperti aku (bahkan lalu lalang orang menjadi distraksi). Namun, ada satu prinsip yang aku pegang sampai sekarang, terlepas dari suatu saat nanti masih bekerja remote atau harus on-site.

Bekerjalah dari tempat yang dengan cara yang membuatmu nyaman.