Jika kamu seorang pekerja lepas yang tidak memiliki pendapatan tetap, maka sudah sepantasnya kita bersulang. Memilih untuk bekerja freelance atau tidak terikat dengan suatu perusahaan memang memiliki banyak tantangan. Selain masalah pemasukan, pekerja lepas biasanya akan terkendala saat ingin mengajukan pinjaman KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Hal inilah yang saya rasakan selama empat tahun.

Tapi bagi kamu yang kesulitan mengajukan KPR juga patut bersyukur. Paling tidak, kamu bisa terhindar dari namanya hutang. Meski pada akhirnya, tetap harus sabar karena masih setia menempati rumah sewa.

Jika dilihat dari kacamata profesi, menjadi pekerja lepas bukanlah pekerjaan yang menjanjikan. Tapi bagi saya--yang saat menyelesaikan tulisan ini masih setia tinggal di Jogja--, menjadi pekerja lepas adalah pilihan terbaik ketimbang harus bekerja dengan gaji UMR. Bolehlah sesekali mahasiswa Jogja turun ke jalan untuk menyuarakan ini.

"Turunkan harga soto!"

Eh, salah. "Naikkan UMR Jogja!"

Besaran gaji Jogja tahun 2020 adalah 1.704.608 (sumber: Kompas). Saya pun pernah membaca tulisan yang menyebutkan bahwa kalau kerja dan hidup di Jogja, bersiaplah untuk menjadi gelandangan yang tak punya tempat tinggal. Bukan hanya UMR yang kecil. Harga tanah dan rumah pun gila!

Oke. Tanpa berbelit-belit. Saya akan berbagi tips tentang cara terbaik bagi pekerja lepas dalam mengatur keuangan.

Cari banyak sumber penghasilan

Bagi orang kreatif, Jogja itu ga bakal bikin kamu mati kelaparan, kok. Kalau kata teman saya, “ubah sitik nang Jogja dadi duit” (gerak dikit di Jogja bisa jadi uang).

Selain kotanya santuy, Jogja emang paling enak buat rebahan. Mau rebahan di Masjid Kampus UGM, perpustakaan, angkringan, ga bakal ada yang mengusir.

Kecuali kalau kamu ketemu da’i patroli Ahmad Tukiran Maulana di Masjid Kampus UGM. Ya, paling-paling ditanya, sudah solat belum? Meskipun begitu, bukan berarti kamu harus bermalas-malasan di Jogja, ya!

Saya pun banyak punya teman yang berprofesi sebagai pekerja lepas sembari narik ojek online. Pekerjaan utamanya jualan kaos sablon. Sambilannya jadi driver ojek online. Sekarang malah bisa beli motor baru. Belum lama ini sudah menikahi gadis idamannya.

Ada lagi teman yang kerjanya sebagai penulis lepas di majalah. Sambilannya jualan foto-foto hasil jepretannya. Penghasilannya? Kabarnya lebih memuaskan menjadi pekerja lepas, sih.

Intinya, kamu harus kreatif untuk bisa bertahan sebagai pekerja lepas di Jogja.

Buka tabungan deposito

Di luar masalah hukum halal-haram atau riba, cobalah untuk mengamankan tabunganmu. Jangan hanya disimpan di dalam buku rekening saja. Yakin, deh. Mata itu cepat laparnya.

Kalau cuma disimpan di rekening bank, bakal gampang ditarik sewaktu-waktu. Lihat teman pakai kamera baru, jadi pingin. Lihat baju bagus di mall, beli. Terus tabungan ludes.

Percayakan semuanya pada deposito. Misal baru punya rejeki 10 juta, ya disimpan saja di deposito. Paling tidak tabunganmu aman dulu. Masalah bunga, ya silakan dipilih-pilih sendiri.

Saya sendiri pun melakukan ini. Mengamankan tabungan untuk beli rumah, kendaraan, dana darurat, ya di sini tempatnya. Setiap kali jatuh tempo, saya perpanjang lagi. Jadi bakal aman dananya.

Kalau ada dana lain yang belum akan digunakan dalam waktu dekat, bisa coba mencoba investasi lewat Surat Berharga Negara atau Sukuk Negara. Dengan tingkat keamanan yang tinggi, nilai kuponnya pun biasanya lebih tinggi dibanding bunga deposito, dan pajak yang lebih rendah dibanding deposito.

Investasi di reksadana

Kalau yang ini kembali ke profil risiko kita masing-masing. Bagi kamu yang tidak puas bermain di deposito karena keuntungan yang diberikan belum sesuai harapan, kamu bisa coba bermain di reksadana.

Pilihannya pun cukup banyak. Untuk masalah cara memilih reksadana terbaik, banyak-banyaklah membaca artikel keuangan. Kalau konsultasi langsung ke Pura-Pura Kerja cukup mahal biayanya.

Buat tabungan berjangka

Ini cara mengatur keuangan paling favorit juga sih. Saya pun sudah tiga tahun menggunakan cara ini. Masalah ada penghasilan atau tidak, tabungan berjangka tetap berjalan.

Biasanya saya mengambil jangka waktu satu tahun dengan biaya perbulan 500 ribu. Lumayan kan satu tahun bisa dapat 6 juta. Kita ga perlu repot lagi cari dana buat bayar kontrakan atau sewa kos. Untuk besaran dananya, silakan saja disesuaikan dengan kemampuan.

Menabung di celengan

Ini cara kuno yang tetap saya gunakan dan cukup ampuh hasilnya. Setiap enam bulan, saya selalu menyediakan dua buah celengan berukuran besar. Target saya adalah mengisi sampai penuh dan akan membongkarnya pada bulan ke enam.

Saya sendiri juga membuat kesepakatan dan janji terhadap diri sendiri. Kalau menemukan uang 10 ribu dan 20 ribu di dompet atau saku, wajib saya masukkan ke celengan.

Bukan hanya uang kertas saja. Setiap menemukan uang koin, saya masukkan toples astor. Setiap bulan akan saya rapikan menggunakan selotip, kemudian ditukarkan ke swalayan. Hasilnya? Lumayan juga, lah. Pernah tembus 400 ribu.

Kalau dapat uang kaget, langsung masukkan celengan

Selain menabung uang kertas bernilai 10 dan 20 ribu, saya wajib menyisihkan uang kaget saya untuk dimasukkan ke celengan.

Misal, saya diundang menjadi pembicara sebuah acara dan mendapat honor senilai 1 juta. 500 sampai 700 ribu pasti langsung saya sisihkan dan masukkan celengan. Sisanya? Ya buat nambah biaya hidup bulanan. Kadang nraktir teman atau kasih penghargaan untuk diri sendiri. Bentuknya bisa beli baju baru, makan enak, atau apalah yang bisa membuat saya senang.

Dengan dana tabungan celengan gimana tuh hasilnya? Asik dong. Pernah tuh enam bulan konsisten nabung lewat celengan dapat 8 juta. Lumayan, kan?

Ngopi boleh, tapi harus produktif

Jogja itu punya ratusan, atau mungkin ribuan kedai kopi. Mulai dari kedai kopi tempat kaum survival sampai kedai kopi yang harganya bikin dompet tipis, semua ada. Herannya, kenapa setiap orang-orang bergaji UMR Jogja sering nongkrong di kedai kopi, ya? Saya sih belum melakukan survei langsung tentang besaran gaji mereka.

Ya, prinsip saya, sih. Ngopi mahal boleh, tapi harus tetap produktif. Bukan hanya untuk gaya-gayaan terus update stories sok-sokan padahal yang difoto pesanannya teman. Ada yang kaya gitu?

Mending kamu ngopi, tapi sambil kerja dan menghasilkan cuan.

Belilah barang-barang yang menurutmu paling penting

Ini, nih. Godaan orang yang lagi punya banyak uang. Lihat ada lensa kamera bagus dengan harga promo, langsung beli. Ada smartphone seri terbaru dengan kamera bokeh dan bisa tembus pandang, langsung beli. Iya kalau foto yang kamu hasilkan bagus? Kalau biasa-biasa aja?

Jadi, sebelum beli barang mahal, kenali juga kemampuan dan keterampilanmu, ya!

Kalau saya pribadi, saya bakal beli barang mahal kalau saya yakin bisa balik modal dalam satu bulan. Iya, satu bulan. Saya mematok ini supaya saya bisa produktif memanfaatkan barang yang sudah terlanjur saya beli.

Misal, saat beli drone. Sebelum benar-benar membeli, saya sudah yakin kalau bisa balik modal dalam satu bulan. Ya udah, akhirnya kebeli juga. Tabungan syukurnya ga berkurang. Malah nambah karena bisa jual jasa video drone.

Atau misal saya dapat kerjaan memotret, tetapi lensa saya ga mumpuni. Akhirnya belilah lensa seharga gaji saya memotret. Tabungan tetap utuh, inventaris alat juga nambah.

Investasi saham

Tips yang satu ini juga baiknya disesuaikan dengan profil risikomu. Bukan hanya berani, tapi juga mau belajar bagaimana bermain saham yang benar.

Kalau kata teman saya, yen wani ojo wedi-wedi, yen wedi ojo wani-wani. Intinya jangan nanggung mengambil tindakan. Kalau berani, ya jangan ada rasa takut. Kalau terlalu takut, ya jangan nyoba-nyoba untuk berani.

Tentukan batas pengeluaran

Terakhir yang paling penting, tentukan batas pengeluaranmu. Sesuatu yang tidak penting, bakal menjadi penting saat kamu memiliki banyak uang. Misal seperti beli motor baru, traveling ke luar negeri, dan lainnya.

Intinya, jangan tergoda karena pegang uang banyak.

Karena profesi kita sebagai pekerja lepas yang tidak setiap saat punya penghasilan tetap, ada baiknya kamu mengatur batas pengeluaran. Kalau saya pribadi sih, 1.500.000 adalah batasan saya.  

Bolehlah memanjakan diri dengan makan enak, nonton di bioskop, jalan-jalan. Namun, beranikan juga untuk berkata cukup. Jangan sampai kelewatan, apalagi mencari hutangan.

Bagi saya pribadi yang berprofesi sebagai pekerja lepas, 1.500.000 sudah cukup untuk membayar listrik rumah, beban komunikasi dan internet, biaya servis dan BBM kendaraan, biaya makan dan belanja bahan masakan, membayar asuransi kesehatan, dan sedikit kesenangan. Ini di luar biaya menabung bulanan dan harian lho, ya!

Oke. Mungkin itu tips mengatur keuangan bagi para pekerja lepas. Jangan lupa tetap diiringi doa dan kerja keras, ya!