Lebaran baru lewat beberapa hari lalu. Sebagian yang bekerja sudah mulai kembali masuk kantor, atau melanjutkan bekerja dari rumah. Agaknya libur lebaran yang biasanya cukup panjang, sedikit kurang terasa tahun ini. Sementara huru-hara pandemi yang jelas-jelas terasa, belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir.

Perubahan pola hidup akibat pandemi ini saya kira akan memangkas banyak pengeluaran. Dari sisi pekerjaan misalnya, yang work from home tak lagi perlu anggaran transportasi, biaya make up dan OOTD office look bisa diirit. Belum lagi biaya makan siang atau Go-Food kopi dan cemilan di jam-jam kritis. Serta mungkin banyak potensi penghematan lain karena tak lagi ngantor.

Saat Ramadan tiba, gak ada lagi kewajiban menghadiri acara bukber di sana sini yang lumayan juga menghabiskan kocek. Saat lebaran datang pun, biaya masak opor dan belanja kue lebaran tidak lagi sebesar tahun-tahun sebelumnya. Lha wong silaturahminya serba daring (dalam jaringan [online]). Apalagi kebutuhan belanja baju lebaran, duh gak kepikiran sama sekali.

Namun, benarkah dengan ketiadaan itu semua, lantas saldo rekening gak ke mana-mana?

Ternyata justru adanya kondisi serba terbatas ini, transaksi digital justru melonjak tajam. BI mencatat selama bulan pertama masa physical distancing, Maret 2020 terdapat 98,3 juta transaksi e-commerce dengan total nilai transaksinya hingga Rp 20,7 triliun.

CEO Bukalapak mengatakan jelang Idul Fitri, kenaikan transaksi lebih dari 10 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.  Begitu juga Tokopedia yang bahkan jumlah penjualnya meningkat 2,8 juta dibanding tahun sebelumnya. Sementara Shopee dengan Ramadhan Big Sale nya mencatat peningkatan jumlah pengunjung hingga 25 kali lipat. Saya jelas salah satunya, jangan-jangan kamu juga ya?

Jadi ternyata di era serba digital begini, walaupun orangnya gak ke mana-mana, duitnya tetep bisa belanja sampai mana-mana. Apalagi belanja daring sekarang begitu mudahnya. Shopping barang sehari-hari harga recehan sampai barang besar yang mahal, bisa dilakukan sambil rebahan.

Sejalan dengan mudahnya buang uang daring, sebenarnya menabung dan investasi secara daring pun sama mudahnya. Perkembangan teknologi di bidang industri keuangan juga makin canggih. Saya ngerasain sendiri betapa terbantu banget mengatur keuangan pribadi. Lha mau ngatur investasi, nabung, dan mengatur keuangan bisa sambil rebahan. Sama banget kan dengan belanja daring?

Berikut 3 alternatif online saving yang bisa dicoba!

Membuka Rekening Tabungan atau Deposito

Saat ini fasilitas mobile dan internet banking sudah semakin canggih dan lengkap. Lucunya masih ada yang anti pakai fasilitas e-channel dengan alasan bikin boros belanja online saking mudahnya. Padahal sebenarnya m-banking ini gak cuma mempermudah belanja online, tapi juga bikin gampang saving online.

Catatan: fitur dan layanan m-banking sangat mungkin berbeda antar satu bank dengan bank lainnya.

Cara paling gampang pertama agar duit di rekening lebih terjaga adalah dengan memisahkan rekening transaksi dengan rekening yang ditujukan untuk menabung. Jadi untuk belanja dan bayar kebutuhan harian hanya menggunakan saldo di rekening transaksi saja.

Sedangkan untuk tabungan, siapkan setiap dapat uang yang tidak dialokasikan untuk belanja. Atau langsung sisihkan prosentase/nominal tertentu secara rutin setiap kali menerima uang atau gajian. Seperti kata Om Warren Buffet kalo namanya nabung itu di depan, baru sisanya buat uang jajan dan belanja. Bukannya terbalik, hanya nabung dari sisa belanja yang mana lebih sering gak nyisanya.

Sekarang coba cermati fitur di m-banking apa yang kira-kira bisa dimanfaatkan untuk memisahkan dana tabungan. Misalnya di bank yang saya pakai, ada opsi Deposito online mulai 1 juta, juga ada opsi pembukaan Tabungan Berencana mulai 100 ribu per bulan. Keduanya bisa dipakai sebagai instrumen online saving yang mudah dan murah. Mudah karena bisa diaktifkan hanya dengan rebahan, murah karena tidak ada biaya administrasi bulanan seperti tabungan biasa.

Di bank lainnya, kedua fitur itu tidak ada tetapi ada opsi pembukaan rekening tabungan baru. Fitur ini bisa dimanfaatkan untuk memisahkan antara rekening untuk transaksi dan rekening untuk menabung. Karena ada di satu bank, jadi ketika berencana untuk menabung, bisa langsung pindahbuku tanpa terkena biaya transfer antar bank lagi. Transaksi lancar, menabung tetap jalan, langsung dari m-banking yang sama.

Silahkan mempelajari fitur m-banking masing-masing.

Investasi di Aplikasi Reksadana Daring

Merasa kurang cukup kalau hanya menabung saja? Bisa coba mulai berinvestasi di aplikasi reksadana daring. Saat ini ada banyak pilihan reksadana daring dengan minimum investasi minim. Mulai dari Rp.10.000, Rp.50.000, hingga Rp.100.000 saja. Untuk top up investasi pun selain melalui transfer bank, bisa juga melalui e-wallet seperti Gopay dan Ovo. Sama banget dengan belanja daring kan?

Menurut saya pilihan investasi reksadana ini malah lebih mudah dibanding deposito dan tabungan berencana. Kita tidak bisa menyimpan recehan di deposito karena biasaanya ada minimum setoran untuk Deposito. Paling kecil aja setau saya minimal mulai 1 juta. Tabungan Berencana juga butuh komitmen paling tidak satu tahun dan rutin 100 ribuan per bulannya.

Nah di reksadana ini mulai Rp.10,000 dan kapan saja pengen top up, bisa langsung diinvestasikan. Dari nominal yang kecil yang keliatannya gak berassa ini, kalau dikumpulkan ternyata bisa jadi sesuatu. Plus-nya lagi gak ada potongan biaya administrasi bulanan seperti di rekening tabungan. Sesuai banget lah dengan pepatah "sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit".

Di antara beberapa yang populer dan bisa dicoba adalah Bibit, Ajaib, Tanamduit, Bareksa, dan masih banyak lainnya. Silahkan mencari tau mana yang paling cocok dan mempelajari bagaimana menjaga keamanan investasi reksadana secara daring ini.

Membuka Tabungan Emas

Bagi yang lebih nyaman dengan instrumen emas, bisa juga mencoba Tabungan Emas Pegadaian. Saat ini pendaftaran Tabungan Emas bisa dilakukan melalui aplikasi Pegadaian Digital dengan setoran pertama hanya Rp. 50,000.

Setelah terdaftar, nasabah dapat bertansaksi jual beli emas secara daring tanpa perlu datang ke unit atau kantor. Nasabah hanya perlu datang sekali ke kantor unit Pegadaian untuk mengambil buku tabungan dan aktivasi finansial saja. Itupun diberi jangka waktu 6 bulan dari pendaftaran di Pegadaian Digital. Jadi masih cukup santuy.

Tabungan Emas Pegadaian ini mengkonversi nominal rupiah yang kita tabung dalam gram emas sesuai harga saat itu. Jika menabung emas secara fisik paling tidak harus meyiapkan dana untuk 1 gram, dengan tabungan emas pegadaian bisa mulai 0,01 gram saja. Kalau dikonversi ke harga emas saat ini sekitar Rp.9.000.

Nanti setelah mencapai minimal 1 gram, nasabah yang menginginkan emas fisik, dapat mengajukan order cetak emas lagi-lagi secara online. Opsi cetak emas mulai 1 gram,2 gram, 5 gram,10 gram, 25, gram 50,gram hingga 100 gram. Nantinya nasabah hanya dikenakan biaya cetak sesuai ketentuan. Tabungan Emas ini pun bisa digadaikan ke Pegadaian langsung saat ada kebutuhan dana mendadak.

Informasi lebih lanjut mengenai tabungan emas, silahkan mengunjungi situs resmi perusahaan terkait.

Ya tapi semudah apapun, kunci keberhasilan menabung dan investasi itu ADA DUITNYA DULU.

Maka bekerja lah lebih keras, jangan pura-pura kerja mulu!