Kalo sudah terbiasa kerja di rumah, maka kamu akan menyadari kalo kerja di kedap kopi hanya membuang waktu dan membuang uang (lebih boros).

Hampir semua pekerja remote dan freelancer bisa mengamini ini:

Kedai kopi adalah salah satu alternatif tempat bekerja yang menyenangkan di kala sedang penat dan bosan bekerja dari rumah.
Bekerja di (Co)-Working Space atau di Kedai Kopi?
Sebagai pekerja remote, kadang bosan juga kerja di rumah terus. Hening, ditemani kesendirian dengan suasana monoton. Sebagai penghibur, aku biasanya memilih untuk bekerja di luar sekadar mencari keramaian dan suasana baru. Apa yang Aku Rasakan Setelah Beberapa Tahun Bekerja Remote?Menjelang akhir k…

Siapa sih yang tak ingin punya tempat kerja berpemandangan instagramable, aroma kopi yang semberka di segala penjuru ruangan, lengkap dengan makanan dan kopi fancy yang datang ke meja kita, ditambah dengan playlist musik yang meneduhkan pikiran? Suasana kedai kopi seperti ini jelas mendukung kegiatan pura-pura kerja (dan kadang pura-pura fancy) dan layak untuk diunggah ke Instagram Story lengkap dengan stiker gif hustle hard.

Namun.... kalau kamu sudah terbiasa bekerja dari rumah, entah bagaimana caranya, kamu akan sampai di titik di mana bekerja dari kedai kopi malah membuat kamu seringkali membuang waktu dan membuang uang. Lho, kok bisa?

Perjalanan Ke Kedai Kopi Butuh Waktu

Percaya tidak kalau pergi ke Kedai Kopi itu membuang waktu yang cukup signifikan?

Satu, kamu nggak mungkin ke kedai kopi tanpa mandi. Bisa saja sih, kalau kamu nggak punya masalah bau badan atau punya kepercayaan diri bahwa auramu akan menutupi sisa-sisa belek di ujung mata. Percayalah, pura-pura kerja itu mudah, pura-pura sudah mandi di depan barista cakep dengan apron yang menambah kewibawaan seseorang 5 kali lipat itu susah, apalagi kalau malamnya kamu habis main futsal.

Dua, kamu harus berangkat ke kedai kopi. Ini tak jadi masalah kalau kedai kopi dan tempatmu tinggal berada dalam radius tempuh yang kecil. Yang jadi masalah adalah ketika kamu harus: a) memanaskan mesin kendaraan; b) bermacet-macet ria ke kedai kopi tujuan; c) pusing cari parkir terlebih dahulu; lalu, d) mengantre kopi di depan kasir, persis di belakang mbak-mbak yang sedang galau mau pesan es kopi susu gula aren atau es susu regal (dan biasanya pemenangnya adalah: es red velvet!)

Sementara itu di rumah, hal yang perlu kamu siapkan hanyalah: bangun, buka laptop, lalu bekerja. Mau kerja pake kolor kek, mau punya bau badan yang bikin tanaman di rumah auto layu pas kita lewat kek, tidak ada yang peduli--kecuali mungkin orang rumah yang tak henti-hentinya istighfar melihat kondisi kehidupanmu, dan itu bukan salah mereka.

Lebih Boros Pengeluaran

Tiga kata: Kopi mahal. Makanan mahal. Mending duitnya dikumpulin buat beli gim Animal Crossing di Nintendo.

Bukannya pelit, tapi coba hitung berapa harga yang kita bayarkan untuk segelas kopi susu fancy yang tentunya rasanya tidak beda jauh dengan kopi susu racikan sendiri di rumah (bahkan kadang lebih enak buatan sendiri!)

Lebih parah lagi, kadang, kopi yang kita pesan punya rasio es ke kopi yang kurang ajar, misal: 60% es batu dan 40% kopi. Tidak salah sih, karena namanya juga es kopi, bukan kopi es. Ingat, bahan yang dominan ditulis di depan.

Itu baru kopi, belum makanan. Ingat, pisang goreng kalau sudah masuk kedai kopi dan berubah identitas menjadi banana fritter juga akan mengalami kenaikan harga yang signifikan. Itulah mengapa branding sungguh penting di tengah persaingan usaha kulinari yang kian sengit.

Ah murah kok, mungkin begitu pikirmu. Nanti dulu, semakin lama kamu menghabiskan waktu di kedai kopi, maka ongkos kopi dan makanan ini akan semakin berlipat-lipat, misalnya dengan kehadiran para pelayan yang menghampiri dengan senyum ramah sambil berkata, "yang sudah saya angkat ya kak?"

Dan mendadak mejamu kosong. Perasaan gengsi pun menghampiri dan perlahan kamu melipir menuju kasir dan berbisik sambil menggenggam dompet erat-erat,

"es kopinya satu lagi mbak..."

Fasilitas Kerja dan Setup Tempat Kerja Lebih Nyaman di Rumah

Posisi menentukan prestasi terasa begitu nyata saat kamu bekerja dari rumah. Ada spot-spot tertentu di rumah yang entah kenapa memberikan inspirasi saat sedang menggarap presentasi, ada pula spot tertentu yang cahayanya bagus banget buat video conference.

Jika kamu sudah punya sudut kerja atau bahkan ruang kerja sendiri, kamu tentunya paham betapa menyenangkannya bekerja di tempat yang bisa kamu atur sesuai kebutuhanmu sendiri, lengkap dengan kursi yang ergonomis, keyboard mekanis yang bunyi 'cetok cetok'nya bikin semangat mengetik, dan lain-lain.

Sadar tak sadar, hal-hal kecil seperti ini yang bikin kamu semakin semangat bekerja. Belum lagi saat kamu punya target untuk membeli beberapa dekorasi untuk ruang kerjamu, produktivitas terasa semakin meningkat.

Di kedai kopi? Kamu harus duduk berjam-jam di tempat yang sama, dan kadang kamu harus berbagi meja dengan orang asing yang belum tentu tidak mendistraksi kamu dari pekerjaanmu. Belum lagi masalah-masalah penting seperti kenyamanan kursi, tinggi meja, ketersediaan colokan... pokoknya banyak!

Tidak Bisa Melakukan Gerakan Aneh-aneh

Salah satu bentuk "surga" kecil-kecilan adalah ngulet saat lelah bekerja berjam-jam. Masalahnya, tidak mungkin kan, kamu tiba-tiba ngulet di tengah-tengah kedai kopi?

Itu baru masalah ngulet. Masih banyak lagi gerakan yang penting untuk dilakukan tapi tak bisa kamu lakukan di tempat umum, misalnya merapikan posisi celana yang nyelip di tempat-tempat tidak strategis, menggaruk punggung yang gatal karena bahan kursi yang nggak kece, sampai hasrat ingin sit-up yang tiba-tiba muncul saat notifikasi diskon baju di marketplace langganan muncul di tengah-tengah bekerja.

Di rumah, kamu bebas bergerak sampai nyaman, mau rebahan boleh, mau stretching boleh, mau joget-joget boleh, mau tiba-tiba merasa butuh kelas yoga setelah melihat target kuartal ini juga boleh. Pokoknya bebas!

Kerja Bisa Lebih Fokus, Minim Distraksi

Iya deh, khusus poin yang satu ini sangat tergantung dengan orangnya. Ada juga yang bisa kerja fokus di keramaian, kerja udah tak peduli tempat, seperti abang-abang penjual sate atau minuman yang gelar lapak di tengah konflik antara polisi dan penjahat.

Tapi percaya deh, kalau kamu sudah terbiasa bekerja dari rumah, berarti kamu sudah bisa fokus dengan pekerjaanmu dan mengabaikan distraksi-distraksi seperti panggilan mesra kentungan tukang bakso, omelan mertua sampai dengan kucing yang mendadak tiduran diatas keyboard dan sukses bikin ambyar spreadsheet Excel yang sudah kamu susun seharian.

Bekerja di kedai kopi bukan berarti minim distraksi. Percayalah, yang namanya Dewa Prokrastinasi selalu punya cara untuk membuatmu buang-buang waktu, mulai dari orderan kopi njelimet orang yang antri di depanmu, sampai (tidak sengaja) nguping pembicaraan orang di meja sebelah soal selingkuhan temannya yang ternyata artis terkenal.

#GenerasiRebahan

Salah satu kenikmatan hakiki kerja di rumah adalah... bisa rebahan kapan saja. Serius.

Rapat daring bikin stres? Rebahan. Anggota tim bikin emosi? Rebahan. Klien banyak mau? Rebahan. Rebahan adalah sebuah solusi ultimate dari segala permasalahan hidup.

Bayangkan kalau kamu tiba-tiba rebahan di kedai kopi, antara kamu akan diusir atau kamu akan dipanggilkan ambulans oleh para barista.

Sesuai slogan kampanye seorang calon anggota dewan beberapa tahun silam: "semua akan terasa mudah, jika tidak dikerjakan".

Jadi, jika kamu merasa malas pergi ke kedai kopi, kamu tidak sendirian. #DirumahAja adalah solusi dari permasalahan-permasalahan urban seputar kenikmatan kerja sambil rebahan dan koloran.