Jika ada iklan lowongan kerja, kriteria apa yang harus paling dicermati dan diwaspadai para pencari kerja? Bukan, bukan nominal gaji, bukan pula soal “sanggup bekerja di bawah tekanan” karena hidup di Indonesia yang manusianya lucu-lucu bisa jadi sudah cukup menjadi tekanan buat kebanyakan orang.

Ini soal jam kerja. Lebih tepatnya, iklan “jam kerja fleksibel”.

Lho, bukannya bagus ya kalau ada jam kerja yang fleksibel? Apa yang merugikan dari jam kerja fleksibel?

Menarik kan sebenarnya, kalian ngga harus berdesak-desakan di komuter atau bermacet-macet di pagi hari untuk berangkat ke kantor. Jam kerja yang tadinya ketat dari jam 9 pagi sampai 5 sore atau jam 8 pagi sampai 4 sore jadi bisa lebih fleksibel. Sayonara, HRD dan evaluasi ketepatan waktunya!

Tapi kalau kita berangkat lebih siang, berarti kita akan pulang kantor lebih malam kan? Kalau kita berangkat sore… berarti kita pulang… pagi?

Ini dia pentingnya mengartikan sebuah bahasa secara teks dan konteks gaes. Jam kerja fleksibel ini berarti apakah orangnya bisa membuat penyesuaian sendiri ke jam kerjanya atau harus siap kerja jam berapa saja? Yang fleksibel orangnya atau kantornya?

Jadi sebelum tanda tangan kontrak kerja, dipastikan dulu yang dimaksud jam kerja fleksibel itu seperti apa. Jangan sampai nih, ternyata yang dimaksud jam kerja fleksibel adalah…

...kantornya fleksibel menyuruh-nyuruh kita kerja jam berapa pun termasuk jam dua pagi.

Mari kita pertimbangkan dulu pro dan kontra jam kerja fleksibel.

PRO

Sebenarnya kalau dipikir-pikir banyak juga keuntungan jam kerja fleksibel. Contoh yang paling mudah adalah kita punya banyak waktu untuk diri kita sendiri di pagi hari, misalnya untuk berolahraga, journaling ataupun sarapan.

Hayo ngaku siapa yang ga sempet sarapan pagi-pagi karena harus berangkat saat matahari belum terbit?

Padahal belum tentu semua orang bisa produktif di pagi hari kan? Ada orang-orang yang baru bisa bekerja di malam hari. Ini sih pastinya sudah biasa untuk para pekerja lepas (freelancer) yang jam kerjanya tentu lebih fleksibel.

Selain itu, jika pekerja punya kepentingan pribadi, tidak perlu pusing memikirkan izin ke kantor karena biasanya kantor yang menerapkan jam kerja fleksibel tidak ambil pusing dengan kehidupan pribadi pekerja. Yang penting tugas-tugas dan indikator performa tercapai.

Sebenarnya ini mempermudah kantor juga untuk melihat kinerja seseorang murni berdasarkan hasil kerjanya. Apalagi pekerja jadi bisa mengerjakan pekerjaan kantor sesuai dengan waktu kerja dan jobdesk yang sudah ditentukan. Model jam kerja fleksibel ini cocok sekali untuk kantor yang memiliki banyak pekerja remote.

KONTRA

Banyak lini usaha yang memang harus mengikuti jam kerja. Jadi nggak semua lini usaha bisa disamakan jam kerjanya dengan jam kerja pekerja lepas yang lebih fleksibel. Bahkan sekarang banyak lho, pekerja lepas yang bekerja dengan jam kerja normal!

Belum lagi kalau yang dimaksud jam kerja fleksibel itu aslinya nggak fleksibel. Misal, jam 5 pagi atasan kita menghubungi untuk menyiapkan bahan presentasi sesegera mungkin karena ada meeting dadakan jam 8. Terus, pas kita menolak, jawabannya tentu “tapi kan jam kerja kamu fleksibel, bisa jam berapa aja”

Situasi-situasi seperti inilah yang harus dihindari. Belum lagi jika berhadapan dengan klien yang tinggal di zona waktu yang berbeda--jam kerja fleksibel tak lagi fleksibel karena tentunya waktu korespondensi harus menyesuaikan dong.

Banyak juga pekerja dengan jam kerja fleksibel yang ujung-ujungnya lembur tanpa tambahan honor karena jam kerja nggak tercatat dengan baik, terutama di lini usaha kecil yang jam absennya belum terarah.

Tawaran jam kerja fleksibel ini juga seringkali dijadikan justifikasi untuk memberikan honor yang lebih kecil karena banyak perusahaan yang merasa bahwa jam kerja fleksibel ini berarti pekerja bisa lebih santai dalam melakukan tugas hariannya, padahal sebenarnya tujuan jam kerja fleksibel ini diciptakan untuk meningkatkan produktivitas bekerja.

Kalau kalian tim yang mana? Yang setuju jam kerja fleksibel atau nggak? Atau jangan-jangan kantor kalian tipe yang jam kerjanya terlalu fleksibel? Fleksibel atau nggak, jangan lupa untuk selalu pura-pura kerja ya! Ingat, HRD mengawasimu dari jauh!