Kalau ditanya sama calon mertua “pekerjaanmu apa?” menjawabnya dengan titel-titel canggih seperti CEO, CTO, PNS, Youtuber, dan bloger akan kalah jika kamu punya titel yang lebih canggih yaitu Raja Diraja.

Lho, memang gitu kok kenyataannya, sekarang memang sudah ngga musim pura-pura kerja. Apa itu startup? Apa itu ahensi (agensi)? Wong sekarang tiba-tiba muncul raja-raja baru entah dari mana dengan harta melimpah dan seragam ala-ala yang tentunya terinspirasi oleh sinetron naga terbang Indosiar.

Ya meskipun habis itu para Raja Diraja ini harus sibuk berurusan dengan yang berwajib karena konon gelar kerajaannya cuma pura-pura saja tapi kan tetep ya, titel raja jauh lebih bergengsi di kartu nama.

Bayangkan kartu nama emboss dua muka lengkap dengan emblem kerajaan yang didesain khusus menggunakan aplikasi maha canggih 4.0 seperti Canva, dengan tulisan “Kucing Pemalas, Raja Diraja Dari Seluruh Negara”

Jauh lebih meyakinkan lho, dibanding “Kucing Pemalas, CTO Startup yang Baru Dapat Funding dari Investor”

Belum lagi kebanyakan orang tua di Indonesia masih berharap punya menantu yang berseragam. Kurang kece apa seragam kerajaan yang membuktikan kalau Indonesia adalah mercusuar dunia? Ingat, sebagai Raja Diraja yang menguasai seluruh dunia dan punya dana triliunan di Bank Swiss, seragam kerajaan ini adalah simbol sakral yang didesain dengan penuh kehati-hatian oleh pengrajin kostum karnaval di Cibaduyut. Hargai dong!

Permasalahannya, sama seperti persaingan pura-pura kerja diantara para pekerja lepas (freelancer) yang lagi sepi job, saat ini mau pura-pura jadi raja pun saingannya banyak sekali! Total sudah terdeteksi empat raja baru yang mengklaim punya dana triliunan rupiah di Bank Swiss. Coba bayangkan kalau dana-dana ini disatukan? Wow, Indonesia bisa jadi The Next Wakanda.

Sekadar saran, para raja-diraja ini harusnya bikin geng aja, biar konsolidasinya lebih solid. Atau mungkin para raja-diraja ini bisa bikin blog bareng-bareng. PuraPuraRajadotCom sepertinya masih tersedia di penyedia domain. Jadi kalau nanti ada tetangga para raja yang mengira kekayaan para raja ini hasil pesugihan, para raja bisa ikut curhat di grup blogger.

Ketika negara-negara adidaya seperti Amerika, Jepang, Inggris, Rusia masih berutang pada Bank Dunia, Geng Raja-raja di Indonesia ini konon sudah mengklaim dirinya bisa melunasi utang Indonesia. Keren banget kan?

Mungkin bagi para raja ini, uutang negara tak ubahnya seperti kredit panci, harus dilunasi sebelum gosip tunggakan panci tersebar diantara ibu-ibu sekampung. Nggak enak kan, kalau utang negara jatuh tempo terus jadi bahan gosip diantara negara-negara lain di forum internasional? Hiii… amit-amit.

Memang dari mana sih harta kekayaan ribuan triliun di Swiss itu? Kok pemerintah Indonesia nggak pernah woro-woro kalau ada uang sebanyak itu milik warga negara Indonesia? Kok para raja ini nggak pernah masuk Forbes top 50?

Hiiii, meski pura-pura, tetap raja itu kan harus humble dan bersahaja gitu loh! Malu kan kalau sombong, nanti mertua diomongin tetangga karena kesombongan kita, hiii!

Lagipula konon uang itu adalah harta karun yang disimpan oleh Bung Karno semasa hidupnya. Jadi nggak sebaiknya digunakan untuk kepentingan pribadi, malah harus dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan! Eh tapi, ada syaratnya. Masyarakat yang butuh harus membayar dulu uang administrasi ke raja, soalnya ngurus dana sebesar ini di luar negeri kan susah. Raja harus bolak-balik naik pesawat dan telepon interlokal, mahal dong, bisa-bisa nanti malah uang raja habis cuma karena harus reschedule tiket pesawat--maklum, raja sering sibuk mendadak. Raja gitu loh!

Jadi jangan sirik dengan kehidupan raja yang glamorous, karena pura-pura raja itu masih lebih melelahkan daripada pura-pura kerja.

Udah ah, raja mau meeting dulu, KPI bulan lalu nggak terpenuhi nih. Maklum, raja masih mengejar passion raja secara freelance. Bye-bye rakyatku! Salam Halu!